
SURABAYA- Perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) ASEAN-China mulai terasa imbasnya di bisnis bahan bangunan. Keramik, marbel, granit dan asesoris rumah merupakan pasar yang mulai dikikis produk China. Meski memiliki kualitas sama, namun produk lokal kalah di sisi harga.
“Produk China memang makin membanjiri pasar Indonesia termasuk untuk bahan bangunan. Kekhawatiran ada, tapi produk lokal memiliki keunggulan di after sales-nya,” ujar Direktur Marketing Platinum Ceramics Industri Daniel Djianto Sugeng, di sela Pemeran Industri Teknologi Bahan Bangunan di Gramedia Expo, Rabu (10/3).
Bagi konsumen yang memperhatikan kualitas, menurut dia, keramik produk lokal lebih dipilih. Pasalnya, keramik dari China memiliki kekurangan dalam hal konsistensi.
Seperti dalam hal kedatangan per kontainer maka untuk warna dan motif antarkontainer tak akan sama.
”Jadi misalnya belinya kurang dan mau cari motif dan warna serupa akan sulit. Meskipun kalau dari segi harga memang relatif miring,” jelasnya.
Platinum sendiri optimis mampu mempertahankan market share 15% di industri keramik. Strategi desain dan teknologi baru menjadi andalan. Apalagi pasar diperkirakan tumbuh 15% tiap tahunnya.
Sementara, Direktur Utama PT Debindo Mitra Tama--penyelenggara pameran, Dadan M. Kushendarman membenarkan makin kuatnya serbuan produk bahan bangunan asing. ”Saat pameran di Jakarta ada 20 produsen dari China dan 15 dari Malaysia. Ini bukti bahwa pasar properti Indonesia bagus,” katanya.
Tapi disisi lain, hal tersebut juga menjadi sinyal bagi produsen lokal untuk meningkatkan daya saing. Untuk pameran di Surabaya sendiri, belum ada perusahaan asing. Namun dari jumlah peserta terus ada pningkatan tiap tahun. Bila di 2009 hanya 52 peserta saat ini menjadi 57 peserta dan 20 diantaranya asli Jatim. ”Jadi kalau tahun lalu transaksi pameran mencapai Rp 5 miliar, tahun ini Rp 9 miliar bisalah. Apalagi properti mulai bangkit,” katanya.
Secara terpisah, Wakil Ketua Perhimpunan Real Estate (REI) Jatim, Sony Wibisono mengakui beberapa pengembang memang mulai menggunakan produk China karena lebih murah. ”Kualiatas sama tapi harga lebih murah, jadi memang pengembang menggunakan itu. Yang paling banyak asesoris rumah, misalnya kunci dan pegangan pintu, engsel hingga perlengkapan kamar mandi,” katanya.
Menurutnya, penggunaan barang China dilakukan agar pengembang mampu menahan harga disaat beberapa bahan bangunan lain mengalami kenaikan. Menurutnya, FTA ASEAN-China akan membantu pengembang dalam memeberikan alternatif produk bahan bangunan dan asesorisnya. Untuk komposisi produk China dalam pembangunan sebuah rumah, saat ini dikisaran 10% dari total bahan bangunan. ”Tapi kami tidak menomorduakan kualitas. Jadi konsumen tak perlu khawatir,” tuturnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar